CONTOH KARYA ILMIAH

TUGAS MATA KULIAH TEKHNIK MENULIS KARYA ILMIAH

SKRIPSI

PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA KONSTRUKTIVISTIK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP NILAI TEMPAT BAGI SISWA KELAS III SDN…………………………….

Oleh:

Sulaiman, NIM: ……………

Rahmatia, NIM: …………..

Rosdiah, NIM: ….……..

Nur Alam, NIM: ….………

Linda, NIM: ………

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

UNIVERSITAS TERBUKA

20…

PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA KONSTRUKTIVISTIK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP NILAI TEMPAT BAGI SISWA KELAS III SDN 016 BONTANG SELATAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Tekhnik Menulis Karya Ilmiah

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Terbuka

Oleh:

Sulaiman, NIM: ………….

Rahmatia, NIM: …………..

Rosdiah, NIM: ….……..

Nur Alam, NIM: ….………

Linda, NIM: ………

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

UNIVERSITAS TERBUKA

20…

HALAMAN PENGESAHAN

PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA KONSTRUKTIVISTIK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP NILAI TEMPAT BAGI SISWA KELAS III SDN ………………………………

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Tekhnik Menulis Karya Ilmiah

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Terbuka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembimbing                                                                                 Penyusun

Abdullah, S.Pd, M.Pd.                                                                             Tim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

 

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya atas penulis selama dalam penyusunan karya ilmiah ini, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang telah berperan sehingga dapat terselesaikannya tugas ini, antara lain :

1.      …………………… selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

2.      Segenap dosen dan staff pengajar di Jurusan Pendidikan GuruSekolah Dasar Universitas Terbuka.

3.      Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan moril maupun materil.

4.      Lisnawati, sebagai partner selama bimbingan skripsi dan teman-teman yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tugas ini.

5.      Pihak-pihak lain yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

 

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala petunjuk, kritik, dan saran yang membangun dari pembaca agar dapat menunjang pengembangan dan perbaikan penulisan selanjutnya.

Akhir kata penulis mohon maaf atas kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang membangun dari pembaca.

Semoga skripsi ini dapat berguna untuk menambah wawasan dan wacana bagi rekan-rekan mahasiswa.

 

 

Bontang, 26 Oktober 2010

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Tim Penyusun

Skripsi

Pembelajaran Yang Berorientasi Pada Konstruktivistik Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Nilai Tempat Bagi Siswa Kelas III SDN…………………

 

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan nilai tempat dan penyebab siswa melakukan kesalahan, serta menerapkan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep nilai tempat.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena menggunakan sumber data langsung sebagai latar ilmiah, data deskriptif berupa kata-kata atau kalimat, dibatasi oleh fokus, analisis data dilakukan secara induktif dan lebih mementingkan proses daripada hasil. Peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan masih banyak kesalahan yang dilakukan siswa dalam memahami konsep-konsep nilai tempat. Penyebab siswa melakukan kesalahan adalah siswa kesulitan menentukan tempat terbesar pada suatu bilangan yang disebutkan namanya, menempatkan angka nol pada bilangan terutama yang angka nol-nya di tengah, membedakan tempat, nilai tempat, dan nilai angka, juga dalam melakukan teknik regrouping.

 

Kata Kunci :

Kesalahan, nilai tempat, penyebab, dan pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah

Pendidikan dasar yang diselenggarakan di Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar “Baca – Tulis – Hitung”. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah menetapkan kurikulum yang berisi tujuan pembelajaran beserta susunan bahan kajian dan pelajaran, yaitu kurikulum SD tahun 1994.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum tersebut, yang penyampaiannya diatur dalam GBPP. Terkait dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai, pokok bahasan bilangan (mencakup sub pokok bahasan bilangan, nilai tempat, dan operasi aritmatika) dalam pelajaran matematika disampaikan dengan porsi lebih banyak dibanding pokok bahasan lain.

Salah satu rambu-rambu pelaksanaan GBPP Matematika SD Kurikulum 1994 menyebutkan bahwa “Pengajaran Matematika hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa SD” (Kurikulum Pendidikan Dasar, 1993). Ini berarti bahwa konsep-konsep dasar matematika hendaknya dipahami siswa dengan baik. Seperti halnya pada pokok bahasan bilangan, hendaknya konsep bilangan dan nilai tempat dipahami dengan baik sebelum siswa dilibatkan dengan operasi aritmatika.

Kenyataan yang ada, umumnya secara verbal siswa dapat membilang dengan lancar bilangan-bilangan 1 angka, dan 2 angka, tapi mengalami kesulitan untuk bilangan-bilangan yang terdiri dari lebih 3 angka. Hal ini sesuai pendapat Huinker dan Payne (dalam Jensen, 1993) bahwa setelah 2 minggu memberikan instruksi-instruksi pada siswa kelas III, ternyata siswa tidak memiliki pemahaman yang baik untuk bilangan yang lebih besar dari 200 atau 300.

Keadaan tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor, yang salah satunya adalah situasi pembelajaran. Selama ini masih banyak dijumpai pembelajaran matematika yang sifatnya verbal dan prosedural. Dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima pengetahuan sesuai yang diberikan guru. Hal ini berdampak pada lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar matematika.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti melakukan studi pendahuluan di SDN 016 Bontang Selatan  untuk mengamati guru kelas III  semester 1 tahun pelajaran 2010/2011. Di akhir pembelajaran kepada 30 siswa diberikan tes formatif, yang terdiri dari 25 soal yang dijawab benar diberi skor 2, sehingga Skor maksimum 50. Hasil tes menunjukkan hanya 11 siswa yang mencapai skor 50, sedang 19 siswa lain masih melakukan kesalahan.

Adapun kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa antara lain: (1) kesalahan menuliskan lambang bilangan dan nama bilangan; (2) kesalahan menentukan nilai tempat dan nilai angka; (3) kesalahan menuliskan lambang bilangan berdasarkan nilai tempat diberikan; dan (4) kesalahan menuliskan lambang bilangan pada bilangan meloncat berurutan. Kesalahan ini terjadi karena dimungkinkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep nilai tempat.

Troutman dan Lichtenbery (1991) mengatakan bahwa kesulitan memahami konsep nilai tempat akan mempengaruhi sebagian besar konsep aritmatika yang dipelajari. Selanjutnya, dikatakan bahwa kesulitan itu disebabkan oleh antara lain: (1) kesulitan mengaitkan model nilai tempat dengan lambang bilangan; (2) kesulitan menggunakan angka nol (0) pada lambang bilangan; (3) kesulitan menggunakan teknik regrouping atau pengelompokkan kembali; dan (4) kesulitan dalam menentukan posisi nilai tempat.

Sebagai tindak lanjut dari studi pendahuluan, peneliti tertarik untuk memberikan tindakan, melalui alternatif pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada konsep nilai tempat.

Masalah yang ingin peneliti kaji melalui penelitian tindakan ini adalah sejauh manakah manfaat penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas III terhadap konsep nilai tempat. Secara lebih rinci, akan dilihat kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan nilai tempat, faktor-faktor yang menyebabkan siswa melakukan kesalahan dan tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep nilai tempat.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan nilai tempat dan penyebab siswa melakukan kesalahan, serta menerapkan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep nilai tempat. Hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan, khususnya bagi guru kelas III tentang suatu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep abstrak tentang nilai tempat melalui penggunaan benda konkret, sehingga bermanfaat untuk perbaikan dan peningkatan mengajarnya dan sebagai suatu pemberian pengalaman yang diharapkan dapat mendorong guru melakukan penelitian tindakan kelas ditempatnya pada kesempatan yang lain. Sementara itu, bagi siswa terutama subjek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai adanya kebebasan dalam belajar secara aktif dan kreatif sesuai perkembangan berpikirnya. Bagi peneliti, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik, sekaligus memberi dorongan bagi peneliti lain untuk melaksanakan penelitian sejenis lembaga yang lain. Bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, khususnya yang menangani pendidikan guru SD dapat memperoleh masukan tentang pengembangan bahan perkuliahan khususnya bahan perkuliahan strategi pembelajaran matematika SD.

 

2. TINJAUAN PUSTAKA

2

2.1         Tinjauan Kurikulum Matematika

Materi bilangan dan nilai tempat diajarkan mulai kelas I SD secara berkelanjutan ke kelas berikutnya, dan di kelas II Semester 2 bilangan cacah diajarkan sampai dengan 10.000.

Pengajaran tentang bilangan dan nilai tempat meliputi: (1) menyebutkan bilangan yang dihubungkan dengan banyak benda; (2) membandingkan dua kumpulan benda; (3) membilang secara urut dan meloncat berurutan; (4) membaca lambang bilangan; dan (5) menulis nama bilangan. Secara khusus nilai tempat di kelas III meliputi: satuan, puluhan, dan ribuan.

2.2         Teori Perkembangan Mental dari Jean Piaget

Jean Piaget (dalam Ruseffendi, 1988), mengemukakan perkembangan mental (intelektual) manusia dari lahir sampai dewasa melalui 4 tahap berurutan, yaitu: (1) sensori motor pada usia 0-2 tahun; (2) pra-operasional pada usia 2-7 tahun; (3) operasi konkret pada usia 7-11/12 tahun; dan (4) operasi formal pada usia 12 tahun ke atas.

Siswa SD yang rata-rata berusia 7-12 tahun, berada pada tahap operasi konkret. Cara berpikir logik siswa masih didasarkan pada bantuan benda-benda konkret. Selanjutnya Piaget (dalam Hudojo, 1990) mengatakan bahwa proses berpikir manusia berkembang secara bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak. Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran matematika di SD terutama untuk menanamkan konsep hendaknya dimulai dari penyajian konkret menggunakan benda-benda, dilanjutkan penyajian semi konkret/semi abstrak menggunakan gambar-gambar, dan akhirnya penyajian abstrak menggunakan lambang-lambang matematika.

2.3         Pembelajaran Matematika dalam Pandangan Konstruktivistik

Menurut Nickson (dalam Hudojo, 1998) pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivistik adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep itu terbangun kembali melalui transformasi informasi untuk menjadi konsep baru. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman.

Pemahaman/pengetahuan dapat dibangun oleh siswa sendiri berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Skemp, dalam Hudojo, 1998). Proses membangun pemahaman ini lebih penting daripada hail belajar, sebab pemahaman akan bermakna pada materi yang dipelajari.

Pembelajaran matematika dalam pandangan konstrukvistik mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) siswa terlibat aktif dalam belajar, (2) informasi dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dalam skemata, dan pemahaman terhadap informasi menjadi komplek; (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan (Hudojo, 1998).

2.4          Implikasi Konstruktivistik terhadap Pembelajaran Matematika

Menurut Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997) mengajar adalah membantu seseorang berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri. Jadi guru hanya berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik.

Sebagai implikasi konstruktivistik terhadap pembelajaran matematika, tugas guru adalah membantu siswa agar mampu mengkontruksi pengetahuannya. Menurut Hudojo (1998) guru perlu mengupayakan hal-hal sebagai berikut: (1) menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan; (2) mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret; (3) mengintegrasikan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau lingkungannya; (4) memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis; dan (5) melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik.

Kebermaknaan materi matematika yang dipelajari dapat membangun suatu konsep matematika. Dalam penelitian ini adalah terbangunnya konsep nilai tempat (bilangan cacah sampai dengan 500). Proses terbangunnya konsep ini berarti terjadinya asimilasi dan atau akomodasi.

2.5         Bilangan dan Lambang Bilangan

Bilangan adalah suatu ide yang sifatnya abstrak (Negoro, 1987), bilangan bukan simbol dan bukan pula lambang bilangan. Menurut Herutomo, dkk. (1997) bilangan yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari adalah bilangan asli. Himpunan bilangan asli dinyatakan dengan N: {1, 2, 3, …). Bilangan asli dapat diartikan sebagai kardinalitas (banyaknya anggota) suatu himpunan/kumpulan.

Selanjutnya, untuk menyatakan himpunan kosong (himpunan yang tidak punya anggota) diciptakan lambang bilangan “0” (nol). Dengan adanya lambang bilangan “0”, terdapat himpunan baru yaitu bilangan cacah yang dinyatakan dengan C = {0, 1, 2, 3, …}.

Lambang bilangan adalah lambang yang digunakan untuk menyatakan suatu bilangan. Untuk menulis lambang bilangan digunakan sistem memerasi. Adapun sistem memerasi yang banyak digunakan saat ini adalah sistem memerasi Hindu – Arab, yang menggunakan sistem nilai tempat.

Sistem Hindu – Arab sebagaimana dinyatakan Troutman (1991) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menggunakan sepuluh macam angka, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
  2. Menggunakan sistem bilangan dasar sepuluh (10), artinya setiap 10 satuan dikelompokkan menjadi 1 puluhan; setiap 10 puluhan menjadi 1 ratusan, dan seterusnya. Jadi pada bilangan dasar 10, tempat paling kanan adalah tempat satuan dengan nilai tempatnya satu, tempat sebelah kirinya adalah puluhan dengan nilai tempatnya sepuluh, dan seterusnya.
  3. Menggunakan sistem nilai tempat, misal pada bilangan 12, nilai tempat angka 1 adalah sepuluh jadi 1 menunjukkan 1 puluhan dan nilai tempat angka 2 adalah satu jadi 2 menunjukkan 2 satuan.
  4. Menggunakan sistem penjumlahan dan perkalian, misal 429 = (4 x 100) + (2 x 10) + (9 x 1).

2.6         Pengertian tentang Nilai Tempat

Konsep nilai tempat perlu dipahami siswa terutama untuk menuliskan lambang bilangan yang lebih besar dari 9.

Menurut Thompson (dalam Payne (Ed), 1993) terdapat tiga komponen dasar pengetahuan tentang nilai tempat, yaitu: conseptual model, oral representations, dan symbolic representations. Dengan demikian, memahami nilai tempat berarti memiliki pengetahuan konseptual yang diwakili oleh model (alat peraga yang mewakili pengetahuan konseptual bilangan dasar sepuluh), dan berarti pula mempunyai kemampuan untuk menyatakan pengetahuan itu dengan kata-kata (lisan) dan lambang (simbol) tertulisnya.

Aktivitas membilang (mencacah) merupakan hal penting bagi pengembangan konseptual dan juga merupakan cara utama untuk menyusun hubungan dengan kata-kata dan tertulis. Pemahaman yang baik mengenai bilangan dua angka atau lebih melibatkan pemikiran masing-masing bilangan dalam kerangka unsur-unsurnya, hubungannya dengan bilangan lain, dan pengalaman-pengalaman praktis. Misalnya berpikir bilangan 325, maka: (1) unsur-unsur bagiannya adalah 3 ratusan, 2 puluhan, dan 5 satuan; (2) hubungan dengan bilangan lain: > 300 ; < 350.

2.7         Pembelajaran sebagai Usaha Meningkatkan Pemahaman Konsep Nilai Tempat Berorientasi pada Konstruktivistik

  1. Menggali Prakonsepsi Siswa

Prakonsepsi adalah konsep (tafsiran seseorang dari suatu konsep ilmu) yang dimiliki siswa sebelum menerima pelajaran walaupun mereka sudah pernah mendapat pelajaran formal (Berg, 1991). Selanjutnya, Soejadi (1995) menyatakan bahwa prakonsepsi adalah konsep awal yang dimiliki oleh seseorang tentang suatu objek. Dalam hal ini dapat dibedakan antara konsep awal yang benar-benar diperoleh seseorang sebelum mengalami pendidikan formal dan konsep awal yang diperoleh seseorang dari pendidikan formal jenjang tertentu.

Menggali prakonsepsi siswa dalam penelitian ini penting dilakukan untuk menjadi dasar dalam menentukan tindakan. Cara menggali prakonsepsi dengan mengadakan wawancara terhadap siswa (Subjek Penelitian) berkaitan dengan jawaban yang diberikan dalam mengerjakan tes awal penelitian.

  1. Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran difokuskan pada situasi siswa belajar. Guru sebagai fasilitator menyiapkan berbagai fasilitas belajar, seperti: ruangan belajar dan alat-alat peraga, serta media lain untuk belajar. Sementara itu, sebagai mediator, guru berusaha menciptakan situasi belajar yang kondusif.

Siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas memanipulasi alat peraga, sehingga dapat membangun pengetahuan dan memantapkan pemahamannya pada konsep bilangan dan nilai tempat berkaitan dengan bilangan 2 angka dan, 3 angka. Dari kegiatan ini akan terjadi proses asimilasi dan atau akomodasi untuk memperoleh pemahaman konsep nilai tempat bilangan 4 angka. Dengan terbangunnya konsep ini siswa dapat menggunakannya untuk membilang berurutan dan membilang loncat (2, 3, 4, 5, dan kelipatannya, 10 dan kelipatannya).

Setelah kegiatan dengan benda-benda konkret dipahami, kegiatan dilanjutkan dengan gambar-gambar untuk menunjukkan bilangan tertentu. Dalam hal ini siswa telah mengalami berpikir semi konkret/semi abstrak menggunakan gambaran dari objek-objek.

Pada tahap akhir, siswa diarahkan pada kegiatan abstrak tanpa menggunakan alat peraga maupun gambar tapi menggunakan lambang-lambang bilangan.

 

3. METODE PENELITIAN

 

3

3.1         Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini diawali dengan mengumpulkan data langsung yang ditemukan di lapangan, yaitu berupa kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang bilangan dan nilai tempat beserta penyebabnya. Kemudian peneliti memberikan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Jadi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena menggunakan sumber data langsung sebagai latar ilmiah, data deskriptif berupa kata-kata atau kalimat, dibatasi oleh fokus, analisis data dilakukan secara induktif dan lebih mementingkan proses daripada hasil. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan partisipan, karena peneliti terlibat langsung dari awal hingga akhir penelitian. Hal ini sesuai dengan pendapat Madya (1994) bahwa orang yang akan melakukan tindakan harus terlibat dalam proses penelitian dari awal hingga akhir.

Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti di lapangan untuk menyusun rencana kegiatan, melaksanakan tindakan pembelajaran, mengobservasi pelaksanaan pembelajaran, mengadakan wawancara dengan subjek penelitian, dan akhirnya melaporkan hasil penelitian.

Pelaksanaan pembelajaran pada setiap tindakan dalam penelitian ini akan berakhir jika tingkat keberhasilan belajar masing-masing subjek penelitian mencapai optimal/baik sekali, artinya 85% – 94% materi pelajaran dapat dikuasai siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Usman dan Setiawati (1993) bahwa tingkat keberhasilan mengajar guru adalah optimal jika 85% – 94% materi yang diajarkan dapat dikuasai siswa. Jika standar tersebut belum tercapai, diberikan tindakan lain yang menitikberatkan pada materi yang belum dikuasai.

3.2         Data dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Hasil jawaban subjek penelitian dari tes awal penelitian, dan tes pada akhir tiap-tiap tindakan.
  2. Jawaban subjek penelitian pada saat wawancara.
  3. Hasil observasi dengan berpedoman lembar pengamatan.
  4. Catatan lapangan tentang pelaksanaan pembelajaran.

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SDN ……………………. Tahun……………. sebagai subjek penelitian dipilih 5 siswa yang didasarkan pada banyaknya kesalahan yang dilakukan pada saat tes awal penelitian. Selain itu pemilihan subjek juga berdasarkan pertimbangan guru kelas II tentang prestasi siswa tersebut dan mudah diajak berkomunikasi.

3.3         Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data disesuaikan dengan data yang ingin diperoleh. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan subjek penelitian dalam pembelajaran, dilaksanakan tes formatif yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk skor. Kemudian ditindak lanjuti dengan wawancara untuk memperoleh informasi lengkap tentang skor yang diperoleh.

Data pelaksanaan tindakan diperoleh melalui catatan lapangan dan hasil perekaman dengan tape recorder. Tim peneliti berperan rangkap sebagai pemberi tindakan dan pengamat dengan dibantu oleh guru kelas III.

3.4         Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data; dan dikerjakan secara intensif sesudah meninggalkan lapangan.

Data yang berupa kata-kata/kalimat dari catatan lapangan dan hasil wawancara diolah menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan dianalisis secara kualitatif. Teknik analisis kualitatif mengacu pada model analisis dari Miles dan Huberman (1992) yang dilakukan dalam 3 komponen berurutan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Dalam penelitian ini reduksi data meliputi penyeleksian data melalui ringkasan atau uraian singkat, dan penggolongan data ke dalam pola yang lebih luas. Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan data yang merupakan penyusunan informasi secara sistematik dari hasil reduksi data dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi pada masing-masing siklus (tindakan).

Penarikan kesimpulan merupakan upaya pencarian makna data, mencatat keteraturan, dan penggolongan data. Data yang terkumpul disajikan secara sistematis dan perlu diberi makna.

Untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini digunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu. Triangulasi dalam penelitian ini meliputi: (1) triangulasi dengan sumber, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang data hasil pengamatan dengan hasil wawancara; (2) triangulasi dengan metode, dilakukan dengan membandingkan dan mengecek ulang informasi dari pengamatan, wawancara, dan tes akhir tindakan dengan metode yang digunakan dalam tindakan; dan (3) triangulasi dengan teori, dilakukan untuk membandingkan data hasil tindakan, pengamatan, dan wawancara dengan teori yang terkait.

3.5         Instrumen Penelitian

Prosedur dan langkah-langkah dalam melaksanakan tindakan mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart (dalam Rofi’uddin, 1996) berupa siklus spiral yang terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, yang diikuti siklus spiral berikutnya.

Selanjutnya untuk pengumpulan data, digunakan beberapa instrumen sebagai berikut:

  1. Rancangan pembelajaran

Instrumen ini dirancang dan disusun oleh tim peneliti dan dipertimbangkan dengan guru kelas II, terdiri dari: (1) rancangan pembelajaran siklus I untuk konsep bilangan dan nilai tempat bilangan dua angka; (2) rancangan pembelajaran siklus II untuk konsep nilai tempat bilangan tiga angka; dan (3) rancangan pembelajaran siklus III untuk konsep nilai tempat bilangan empat angka.

  1. Lembar Pengamatan

Instrumen ini dirancang oleh tim peneliti, untuk mengumpulkan data mengenai kegiatan guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran.

  1. Pedoman Wawancara

Instrumen ini disusun sendiri oleh tim peneliti, dengan pertanyaan yang disesuaikan dengan perkembangan keadaan di lapangan.

  1. Tes Hasil Belajar

Instrumen  ini disusun oleh tim peneliti yang disetujui guru kelas III dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket wajib matematika.

 

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

4

4.1         Deskripsi Hasil Kegiatan Pra Tindakan

Kegiatan pra tindakan dilaksanakan untuk pemberian tes awal penelitian kepada 30 siswa kelas …………. ….tahun pembelajaran 2010/2011. Materi tes awal adalah tentang bilangan dan nilai tempat sampai dengan cacah < 10.000. Soal tes terdiri dari 25 butir soal dengan skor tiap soal 2, sehingga skor maksimum 50.

Dari 7 siswa yang tingkat keberhasilannya < 75%, dipilih 5 siswa untuk menjadi subjek penelitian. Lima subjek penelitian tersebut, selanjutnya terhadap 5 subjek tersebut, selanjutnya diberi kode: Bt, Ri, Af, Hd, dan Sp. Terhadap 5 subjek dilakukan wawancara mengenai skor yang dicapai. Berdasarkan hasil wawancara, disepakati bahwa terhadap 5 subjek tersebut akan diberi tindakan dalam 3 siklus.

4.2         Deskripsi Data Siklus I (Tindakan I)

  1. Perencanaan Tindakan I

Pada tahap ini peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan I tentang bilangan dan nilai tempat bilangan 0-29 yang dilengkapi dengan LKS dan tes formatif tindakan I. Sesuai rencana tindakan I akan dilaksanakan dalam 2 pertemuan.

2.      Pelaksanaan Tindakan I

Pembelajaran tindakan I dilaksanakan dengan berorientasi pada konstruktivistik yang disesuaikan dengan tahap perkembangan berpikir siswa SD. Penelitian bertindak sebagai guru dan anggota tim peneliti sebagai pengamat dibantu guru kelas III.

  1. Pertemuan ke-1 (Tindakan I-1)

Pada tindakan I-1 ini dijelaskan agar siswa membangun pengetahuan tentang konsep bilangan 1 angka dilanjutkan bilangan 2 angka, yang diawali dengan menggunakan peraga blok Dienes, sedotan, dan kartu nilai tempat. Dengan terbangunnya konsep bilangan, siswa dapat menerapkan konsep tersebut untuk membilang berurutan dan membilang loncat (2, 3, 4, 5).

Pada tahap selanjutnya, setelah siswa benar-benar paham dengan alat peraga, kegiatan dilanjutkan pada semi konkret/semi abstrak dengan menggunakan gambar-gambar. Kemudian pada tahap terakhir, siswa diarahkan pada kegiatan abstrak, yaitu menggunakan lambang-lambang bilangan, diawali dengan kegiatan pada LKS I-1.

  1. Pertemuan ke-2 (Tindakan I-2)

Pada tindakan ini, melalui manipulasi alat peraga sedotan dan blok Dienes ke dalam rak bilangan, siswa diarahkan pada kegiatan untuk memahami perbedaan antara tempat, nilai tempat, dan nilai angka. Contoh: pada bilangan 25, angka 2 menempati tempat puluhan, nilai tempatnya sepuluh dan nilai angka 2 adalah 20; sedangkan 5 pada satuan, nilai tempatnya satu dan nilai angka 5 adalah 5.

Selanjutnya untuk tahap abstrak, siswa dilatih dengan LKS I–2 dan soal-soal dan akhirnya mengerjakan tes formatif tindakan I.

  • Deskripsi Hasil Tindakan I
  • Dari hasil pengamatan yang dilakukan tim peneliti dan guru kelas III diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. Pengamatan terhadap peneliti

Peneliti telah melaksanakan pembelajaran tindakan I-1 dan I-2 sesuai rancangan yang ditetapkan, dan disampaikan secara lisan berupa instruksi-instruksi. Selain itu peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya tentang konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 2 angka. Selanjutnya peneliti membimbing siswa dalam menyelesaikan LKS, dan akhirnya memberikan tes formatif I.

  1. Pengamatan terhadap subjek penelitian (siswa)

Pada awal pembelajaran I-1, siswa terlihat cemas dan bingung, karena belum terbiasa. Alat peraga cenderung digunakan untuk bermain sehingga pembelajaran agak terganggu. Selain itu, antusiasme dan motivasi dari siswa belum nampak, bahkan siswa masih sangat tergantung pada instruksi peneliti.

Selanjutnya, pada pembelajaran tindakan I-2 siswa mulai terlihat antusias dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Siswa Bt, Ri, dan Af lebih cepat memahami materi baik melalui peraga maupun berpikir abstrak, dibanding siswa Hd, dan Sp yang banyak memerlukan bimbingan dari peneliti.

Hasil tes formatif yang dicapai oleh lima subjek penelitian mencapai tingkat keberhasilan optimal 85% – 94%, subjek Hd yang terlihat lambat ternyata dapat mencapai tingkat keberhasilan maksimal (100%). Selanjutnya diadakan wawancara untuk memantapkan hasil yang dicapai siswa, yang hasilnya semua jawaban yang diberikan konsisten dengan hasil yang dicapai

  • Refleksi
    Pembelajaran tindakan I difokuskan agar siswa memahami konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 2 angka. Penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik pada tindakan I ini memang belum dapat dilaksanakan secara optimal, karena siswa masih sangat tergantung pada instruksi guru (peneliti).

Namun demikian, hasil tes formatif I ternyata mencapai standar yang ditetapkan. Dibandingkan hasil tes awal penelitian, ke 5 subjek mengalami peningkatan pemahaman. Selanjutnya dengan hasil wawancara diperoleh jawaban yang konsisten. Untuk subjek penelitian yang masih melakukan kesalahan diberikan bimbingan langsung saat wawancara, dan hasilnya efektif dapat membetulkan kesalahannya.

Berdasarkan hasil tersebut diterapkan bahwa tujuan pembelajaran tindakan I telah tercapai. Oleh karena itu tidak diperlukan mengulang tindakan, dalam arti dapat dilanjutkan ke tindakan II.

  • Pembahasan Tindakan I

Untuk membangun konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 2 angka diperlukan prasyarat, yaitu siswa harus memahami konsep bilangan 0-9 yang ditunjukkan dengan banyaknya kumpulan benda. Dengan dasar ini, siswa diarahkan membangun konsep bilangan 2 angka dengan menekankan pada kelompok puluhan dan ratusan. Dengan aktif memanipulasi alat peraga ini terjadi proses asimilasi dan atau akomodasi.

Pada tindakan I-1, melalui aktivitas yang berulang-ulang, siswa mampu membangun hubungan tiga komponen dasar pengetahuan nilai tempat seperti yang dikemukakan Thompson (dalam Payne (ed), 1993) yaitu menghubungkan model konkret dengan ucapan lisan dan perwujudan dalam bentuk lambang bilangan.

Pada tindakan I-2, melalui aktivitas memanipulasi alat peraga, siswa dapat membedakan antara tempat, nilai tempat, dan nilai angka. Situasi pembelajaran tindakan I-2 yang lebih komunikatif ternyata dapat mempengaruhi hasil tes formatif, sehingga mencapai standar yang ditetapkan.

1

2

3

4

4.1

4.2

4.3 Deskripsi Data Siklus II (Tindakan II)

  1. Perencanaan Tindakan II

Penelitian menyiapkan rancangan pembelajaran II tentang bilangan dan nilai tempat bilangan 100-999 dengan memperhatikan refleksi tindakan I, dilengkapi dengan LKS dan tes formatif tindakan II.

  1. Pelaksanaan Tindakan II

Pembelajaran tindakan II merupakan kelanjutan dari tindakan I, dilaksanakan dalam 2 pertemuan dengan peneliti sebagai guru dan 2 anggota tim peneliti sebagai pengamat dibantu guru kelas III.

a.                   Pertemuan ke-1 (tindakan II-1)

Pada tindakan II difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan permahamannya tentang konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 3 angka. Selanjutnya, siswa dapat menerapkan konsep tersebut untuk membilang loncat (1, 2, 3, 4, 5, dan kelipatannya, 10).Tahap pembelajaran yang dilalui adalah konkret, semi konkret/semi abstrak, dan abstrak (dengan menyelesaikan LKS II-1).

b.                  Pertemuan ke-2 (tindakan II-2)

Seperti pada tindakan I-2; tindakan II-2 difokuskan agar siswa dapat membedakan antara tempat, nilai tempat dan nilai angka: yang selanjutnya dapat diterapkan untuk membandingkan dua himpunan dan menuliskan lambang bilangan berdasarkan nilai tempat yang diberikan.

  • Deskripsi Hasil Tindakan II

a.       Pengamatan terhadap peneliti

Peneliti telah melaksanakan pembelajaran tindakan II-1 dan II-2 sesuai rencana yang ditetapkan. Selain itu peneliti telah berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

b.      Pengamatan terhadap subjek penelitian

Pada tindakan II-1 dan II-2, subjek penelitian sudah menampakan antusiasme dan motivasi yang tinggi. Hal ini nampak dari keberanian siswa untuk bertanya dan mengemukkan pendapatnya. Siswa Hd dan Sp sudah menunjukkan kemampuan yang mendekati Bt, Ri, dan Af.

Hasil tes formatif yang dicapai kelima subjek penelitian sudah melampaui optimal, yaitu maksimal untuk Bt, Af, dan Hd (100%) dan untuk Ri dan Sp (96%). Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa Hd dapat mencapai 100% pada dua tindakan. Selanjutnya dari wawancara, diperoleh jawaban yang konsisten.

  1. Refleksi Tindakan II

Penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik pada tindakan II ini sudah lebih baik dibanding tindakan I, tetapi belum optimal. Alat peraga yang digunakan blok Dienes dan abacus biji. Pada pembelajaran tindakan II ini, tujuan pembelajaran sudah tercapai, sehingga dapat dilanjutkan ketindakan III.

  • Pembahasan Tindakan III

Berdasarkan hasil yang dicapai pada tindakan I, konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 3 angka dapat dibangun oleh siswa melalui alat peraga blok Dienes dan abacus biji. Penekanan diberikan pada bilangan “nol” dengan berbagai posisi.

Suasana pembelajaran yang kondusif, ternyata sangat membantu siswa dalam belajar, sehingga tujuan pembelajaran tindakan II dapat tercapai.

4.4 Deskripsi Data Siklus III

  1. Perencanaan Tindakan III

Peneliti menyiapkan rancangan pembelajaran tindakan III tentang nilai tempat bilangan 1.000 – 9.999, dilengkapi dengan LKS dan tes formatif tindakan III.

2.      Pelaksanaan Tindakan III

a.                   Pertemuan ke-1 (Tindakan III-1)

Sebagai kelanjutan dari dua tindakan sebelumnya, tindakan III-1 ini difokuskan agar siswa menguasai dan meningkatkan pemahamannya pada konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 4 angka. Alat peraga difokuskan pada abacus biji, dan blok Dienes.

b.                  Pertemuan ke-2 (Tindakan III-2)

Pada tindakan III-2 ini siswa dapat mengembangkan konsep bilangan 3 angka, untuk membedakan antara tempat, nilai tempat, dan nilai angka pada bilangan 4 angka.

Deskripsi Hasil Tindakan III

Pengamatan terhadap peneliti.

Peneliti telah melaksanakan pembelajaran tindakan III-1 dan III-2 sesuai rencana.

Pengamatan terhadap subjek peneliti.

Pada tidakan III-1 dan III-2 ini, kelima subjek penelitian sudah terbiasa dengan situasi pembelajaran yang diterapkan peneliti; sehingga siswa hafal urutan yang harus dilakukan. Suasana pembelajaran semakin menarik karena kelima subjek penelitian selalu berlomba dalam menyelesaikan tugas dan melaporkannya. Hasil tes formatif yang dicapai sangat memuaskan yaitu maksimal: 100% untuk 4 siswa (Bt, Ri, Af, dan Hd) dan 96% untuk Sp. Selanjutnya hasil wawancara juga menunjukkan jawaban yang konsisten.

Refleksi Tindakan III

Penerapan pembelajaran yang berorientasi pada konstrutivistik ternyata menunjukkan peningkatan dari tiap-tiap siklus. Pada tindakan III siswa nampak sudah paham dengan yang harus dikerjakan. Penggunaan bilangan “nol” sudah dapat dipahami oleh siswa pada berbagai posisi bilangan 4 angka.

Pembahasan Tindakan III

Konsep bilangan dan nilai tempat bilangan 4 angka dapat dipahami oleh siswa jika siswa terlibat aktif dalam pembelajaran melalui tahap-tahap konkret, semi konkret/semi abstrak, dan abstrak. Pembelajaran yang berorientasi pada konstrutivistik nampak melibatkan siswa baik secara intelektual maupun emosional.

Suasana pembelajaran yang kondusif pada tindakan III-1 dan III-2 ternyata sangat membantu siswa dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran tindakan III dapat tercapai.

 

5. KESIMPULAN DAN SARAN

3.

4.

5.

5.1. Kesimpulan

  1. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam memahami konsep-konsep nilai tempat adalah:
  1. kesalahan menyebutkan nama bilangan dengan kata-kata.
  2. kesalahan menuliskan lambang bilangan dari bilangan yang disebutkan namanya.
  3. Kesalahan dalam menentukan tempat nilai tempat, dan nilai angka.
  4. Kesalahan mengisikan lambang bilangan pada barisan bilangan.
  • Penyebab siswa melakukan kesalahan adalah:
  1. siswa kesulitan menentukan tempat terbesar pada suatu bilangan yang disebutkan namanya.
  2. Siswa kesulitan dalam menempatkan angka nol pada bilangan terutama yang angka nol-nya di tengah.
  3. Siswa kesulitan membedakan tempat, nilai tempat, dan nilai angka.
  4. Siswa kesulitan dalam melakukan teknik regrouping.
  • Usaha yang dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut adalah memberi tindakan pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik dalam tiga siklus dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa pada konsep nilai tempat bilangan 2 angka, dan 3 angka. Penekanan pembelajaran diberikan pada:
  • Pembelajaran yang berorientasi pada konstruktivistik ternyata dapat membuat siswa antusias dan termotivasi dalam belajar matematika sehingga siswa terlibat baik secara intelektual maupun emosional.
    1. melibatkan siswa secara aktif untuk memanipulasi alat peraga (sedotan, blok Dienes, abacus biji) sehingga siswa dapat membangun  konsep bilangan dan nilai tempat.
    2. melibatkan angka nol pada bilangan-bilangan dalam berbagai macam posisi.
    3. membedakan tempat, nilai tempat dan nilai angka.
    4. menggunakan tehnik regrouping (pengelompokkan kembali) untuk membilang loncat (1, 2, 3, 4, 5, dan kelipatannya, 10).

5.2. Saran

Berikut ini dikemukakan beberapa saran untuk para praktisi pendidikan, yaitu para guru, pengawas, dan peneliti.

Dalam mengajarkan konsep nilai tempat bilangan para guru hendaknya mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, yaitu membilang banyak benda, menyebut dan menulis lambang bilangan, dengan materi yang akan dipelajari.

Dalam pembelajaran yang berorientasi konstuktivistik  para guru hendaknya sudah terlatih dan me­mahami dengan baik seluruh rangkaian pembelajaran, mulai dari bentuk konkret, semikonkret, semiabstrak sampai dengan bentuk abstrak. Setiap bentuk penyajian diikuti dengan kata-kata yang menjelaskan masing-masing peragaan yang ditunjuk­kan oleh alat peraga tersebut. Alat peraga blok basis sepuluh, sedotan, dan kelereng ternyata dapat meningkatkan pemahaman siswa akan konsep nilai tempat, sehingga siswa dapat mencapai pengetahuan konseptual dan prosedural dengan baik. Oleh karena itu dianjurkan untuk digunakan sejak kelas 1 SD. Untuk mengajarkan mem­bandingkan dan mengurutkan bilangan para guru hendaknya digunakan pendekatan CSA (concrete, semiconcrete, dan abstract).

DAFTAR REFERENSI

 

Berg, Euwe van den (Ed). 1991. Miskonsepsi Fisika dan Remidiasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.

Depdikbud. 1993. Kurikulum 1994 Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 1995. Petunjuk Pengajaran Berhitung Kelas I, II, III di SD. Jakarta: Depdikbud.

Herutomo, Akbar S., Dwiyono, Heri S. 1997. Bilangan Bulat. Malang: IKIP Malang dan Dirjen Dikti Depdikbud.

Hudojo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud

Hudojo, H. 4 April 1998. Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivistik. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Upaya-Upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Menghadapi Era Globalisasi, Program Pasca Sarjana, IKIP Malang, Malang.

Jensen, Robert J. (ed). 1993. Reasearch Ideas for the Classroom. Early Childhood Matematics. New York: Macmillan Publishing Company.

Kennedy, L.M. and Tipps, S. 1994. Guiding Children’s Learning of Mathematics. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Madya, S. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.

Miles, M.B. and Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Moleong, L.J. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Negoro, S.T, Harahap, B. 1987. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Payne, J.N. (Ed). 1993. Mathematics for the Young Child. Virginia: NCTM.

Rifi’uddin, A.H. 1996. Rancangan Penelitian Tindakan. Makalah disampaikan pada Lokakarya Tingkat Lanjut Penelitian Kualitatif Angkatan V tahun 1996/1997. Malang: Lembaga Penelitian IKIP Malang.

Ruseffendi, E.T. 1980. Pengajaran Matematika Modern untuk Orang Tua Murid Guru dan SPG. Bandung: Tarsito.

Ruseffendi, E.T. 1982. Dasar-Dasar Matematika Modern untuk Guru. Edisi 3. Bandung: Tarsito.

Seputra, Th. MHT., Siti M. Amin. 1997. Matematika 1b,1c: Berhitung. Jakarta: Balai Pustaka.

Soedjadi, R., Kusrini. 1996. Matematika 2a, 2b: Mari Berhitung. Balai Pustaka.

Soedjadi, R., Kusrini. 1995. Miskonsepsi dalam Pengajaran Matematika (Pokok-Pokok Tujuan dikaitkan dengan Konstruktivisme). Surabaya: PPS Pendidikan Matematika IKIP Surabaya.

Sumarno dan Sukahar. 1996. Matematika 3: Mari berhitung. Jakarta: Balai Pustaka.

Sunarno, 1997. Pemahaman Konsep Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat Siswa Kelas V SD Sriwedari Malang. Tesis. Malang: PPS IKIP Malang.

Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Suyanto. 1996/1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagian Pertama: Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. IKIP Yogyakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud.

Troutman, P.A. and Lichtenberg, B.K. 1991. Mathematics a Good Beginning. California: Cole Publishing Company.

Usman, M.U., L. Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s